Strategi Pertahanan Regional Diperkuat, Indonesia dan Australia Sepakat Perjanjian Keamanan Baru

Kesepakatan baru ini juga mencakup mekanisme konsultasi rutin antar pemimpin dan menteri pertahanan untuk membahas kebijakan strategis serta langkah-langkah bersama menghadapi tantangan keamanan regional.

Redaksi Qayyumnews
2 Min Read
Strategi Pertahanan Regional Diperkuat, Indonesia dan Australia Sepakat Perjanjian Keamanan Baru

SYDNEY – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia mencapai babak baru. Presiden RI Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan penyelesaian substansial Perjanjian Keamanan Bilateral Indonesia–Australia dalam konferensi pers bersama di Sydney, Rabu (12/11).

Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukan sekadar dokumen diplomatik, melainkan simbol nyata dari komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

“Perjanjian ini merupakan bukti nyata bahwa Indonesia dan Australia berkomitmen memperkuat persahabatan, sekaligus menjamin keamanan bersama,” ujar Prabowo.

Ia menambahkan, hubungan harmonis antarnegara tetangga menjadi pondasi utama dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan, sesuai nilai-nilai budaya Indonesia yang menjunjung tinggi semangat gotong royong dan saling menghormati.

Prabowo juga menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari Pemerintah Australia dalam kunjungan kenegaraan perdananya.

“Saya merasa sangat terhormat atas penerimaan yang begitu ramah, bahkan disambut dengan musik bagpipe — alat musik yang saya sukai,” ungkapnya disambut tawa ringan para undangan.

Sementara itu, Perdana Menteri Anthony Albanese menyebut penyelesaian perjanjian tersebut sebagai momen bersejarah yang memperkuat fondasi keamanan kawasan.

“Ini adalah langkah besar menuju kerja sama pertahanan yang lebih mendalam dan strategis. Indonesia dan Australia memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga perdamaian di kawasan,” tegas Albanese.

Menurut Albanese, perjanjian baru ini akan memperluas dasar kerja sama yang telah terjalin sejak lama, termasuk Perjanjian Keamanan Keating–Suharto (1995), Traktat Lombok (2006), dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (2024).

Kesepakatan baru ini juga mencakup mekanisme konsultasi rutin antar pemimpin dan menteri pertahanan untuk membahas kebijakan strategis serta langkah-langkah bersama menghadapi tantangan keamanan regional.

“Jika salah satu negara menghadapi ancaman, kami akan segera berkonsultasi dan mempertimbangkan langkah bersama,” jelasnya.

Penandatanganan resmi Perjanjian Keamanan Bilateral Indonesia–Australia dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada Januari 2026, setelah seluruh proses ratifikasi domestik di kedua negara diselesaikan.

Perjanjian ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemitraan strategis antara Jakarta dan Canberra, sekaligus menegaskan posisi keduanya sebagai mitra utama dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.

Share This Article
Tidak ada komentar