Rahma El Yunusiyah Jadi Pahlawan Nasional dari Sumbar

Penetapan Rahmah El Yunusiyah sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar penghormatan retrospektif; ia juga mengirimkan pesan tentang arah ingatan kolektif bangsa—bahwa perjuangan membangun bangs a tidak hanya diukur oleh konflik bersenjata, tetapi juga oleh upaya gigih membentuk manusia lewat pendidikan.

Redaksi Qayyumnews
8 Min Read
Rahma El Yunusiyah Jadi Pahlawan Nasional dari Sumbar

JAKARTA — Pada peringatan Hari Pahlawan, Senin 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Hajjah Rahmah El Yunusiyah, tokoh pendidikan perempuan asal Padang Panjang, Sumatera Barat.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Presiden RI dalam upacara kenegaraan di Istana Negara sebagai bagian dari pengakuan atas jasa-jasa luar biasa Rahmah dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan dan kontribusinya pada perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

Rahmah El Yunusiyah adalah nama yang sejak awal abad ke-20 kerap dikaitkan dengan modernisasi pendidikan Islam di ranah Minang.

Ia dikenal sebagai pendiri Madrasah Diniyah Puteri (Diniyah Putri) Padang Panjang — sebuah lembaga pendidikan khusus perempuan yang didirikan pada 1 November 1923 dan kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan dari tingkat pra-sekolah hingga perguruan tinggi yang menekankan perpaduan ilmu agama dan pengetahuan umum.

Lembaga yang ia dirikan menjadi tonggak penting bagi lahirnya tradisi pengajaran modern bagi perempuan Muslim di Indonesia.

Mengapa penganugerahan ini penting?

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El Yunusiyah membawa pesan ganda: pengakuan atas peran perempuan dalam perubahan sosial dan pengakuan bahwa pendidikan perempuan adalah unsur krusial dalam membangun bangsa.

Tokoh-tokoh seperti Rahmah sering kali berperan ganda — selain sebagai pendidik, mereka juga menjadi ruang tumbuhnya kesadaran politik, sosial, dan nasionalisme yang memberi kontribusi pada pergerakan melawan kolonialisme dan mengorganisir dukungan lokal saat masa revolusi.

Dalam banyak arsip lokal dan narasi sejarah Sumatera Barat, Diniyah Puteri tidak hanya menjadi pusat ilmu agama, tetapi juga menjadi titik pertemuan aktivis, sumber tenaga dan logistik untuk perjuangan kemerdekaan di daerah.

Pengumuman resmi penganugerahan ini juga disambut haru oleh para pewaris dan pengurus Diniyah Puteri. Perwakilan keluarga menyatakan rasa syukur dan menganggap penetapan sebagai pengakuan negara atas kerja panjang Rahmah dalam mendobrak batasan akses pendidikan untuk perempuan di era awal abad ke-20.

Pemerintah menyatakan bahwa penetapan nama-nama pahlawan nasional didasarkan pada kajian sejarah, bukti keteladanan, dan kontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa.

Jejak hidup dan karya: ringkasan perjalanan Rahmah El Yunusiyah

Rahmah El Yunusiyah lahir pada awal abad ke-20 di Padang Panjang dalam keluarga yang kaya tradisi keagamaan. Dilahirkan dari keluarga ulama, ia mendapat pengaruh kuat dari lingkungan intelektual yang mendorong pemikiran pembaruan Islam di Sumatera Barat.

Ia memilih jalur pendidikan dan pendirian lembaga sebagai cara utama untuk membebaskan perempuan dari keterbatasan sosial pada zamannya.

Pada 1923, dengan visi yang tegas, Rahmah mendirikan Diniyah Puteri — sebuah sekolah yang menekankan kurikulum agama yang, unik pada zamannya, dipadukan dengan keterampilan praktis dan ilmu pengetahuan umum sehingga siswi dapat tampil aktif di ruang publik dan berperan dalam pembangunan masyarakat.

Selama masa Revolusi Nasional Indonesia, banyak alumni dan jaringan Diniyah Puteri terlibat aktif dalam mendukung perjuangan kemerdekaan — berupa logistik, dukungan moral, pengorganisasian penggalangan dana, dan mendukung perbekalan bagi pasukan lokal.

Peran semacam ini memperkuat argumen sejarawan yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan tidak pernah terpisah dari konteks sosial-politik di sekitarnya.

Setelah kemerdekaan, Rahmah terus mengembangkan pendidikan perempuan; namanya juga dikenal hingga kancah internasional ketika Universitas Al-Azhar memberi gelar kehormatan “Syekhah” atas kontribusinya terhadap pendidikan perempuan Islam—sebuah pengakuan yang langka bagi perempuan Nusantara di masanya.

Reaksi publik dan makna simbolis

Pengumuman penetapan Rahmah sebagai Pahlawan Nasional memicu beragam reaksi: kebanggaan dari masyarakat Sumatera Barat dan warga pendidikan Islam, apresiasi dari kelompok perempuan dan aktivis pendidikan, serta perdebatan intelektual tentang bagaimana narasi sejarah perempuan dimasukkan ke kanon pahlawan nasional yang selama ini didominasi tokoh laki-laki.

Banyak komentator menilai ini sebagai langkah penting untuk meredefinisi pahlawan nasional agar lebih inklusif dari sisi gender, profesi, dan kontribusi non-militer.

Kepala keluarga pewaris dan pimpinan Diniyah Puteri hadir di Istana pada hari penganugerahan, menyampaikan rasa terima kasih dan berharap pengakuan ini bukan akhir, melainkan pemicu lebih kuat bagi pengembangan pendidikan perempuan di Indonesia. Pemerintah daerah Sumatera Barat juga merencanakan serangkaian kegiatan penghormatan dan program pendidikan yang mengangkat kembali karya Rahmah untuk generasi muda.

Profil Lengkap: Rahmah El Yunusiyah

Nama lengkap: Hajjah Rahmah El Yunusiyah (juga tertulis Rahmah El-Yunusiyah / Rangkayo Rahmah El Yunusiyah).
Tempat & tanggal lahir: Padang Panjang, Sumatera Barat — awal abad ke-20 (catatan sumber menampilkan beberapa variasi tanggal lahir seperti 26 Oktober 1900 atau 29 Desember 1900; perbedaan tanggal ini muncul di arsip dan tulisan berbeda).
Pustaka Arsip Kampar

Meninggal: 1969 (beberapa sumber mencantumkan 26 Februari 1969 sebagai tanggal wafat).

Pendidikan & keluarga: Lahir dari keluarga ulama; kakaknya (Zainuddin Labay El Yunusy) pernah memimpin Diniyah School—sebuah pengaruh intelektual bagi Rahmah.

Ia menempuh pendidikan agama secara intensif, termasuk belajar langsung dengan ulama lokal dan belajar manajemen pendidikan sehingga kelak mampu memimpin lembaga sendiri.

Peran utama:

Pendiri Madrasah Diniyah Puteri (Diniyah Putri) — Padang Panjang (1923). Lembaga ini adalah salah satu sekolah modern perempuan Islam pertama di Indonesia yang menggabungkan pelajaran agama dan ilmu umum. Diniyah Puteri terus beroperasi dan berkembang menjadi jaringan pendidikan perempuan di Sumatera Barat.

Reformator pendidikan perempuan: Memperkenalkan metode pengajaran yang memadukan agama dan keterampilan hidup, serta membuka ruang bagi perempuan untuk berkiprah di ranah publik.

Peran selama Revolusi: Institusi yang ia pimpin terlibat dalam dukungan logistik bagi pasukan pendukung kemerdekaan dan menjadi pusat solidaritas lokal pada masa revolusi.

Penghargaan & pengakuan internasional: Disebut-sebut menerima gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (gelar “Syekhah”) atas pengabdiannya pada pendidikan perempuan, sebuah penghormatan internasional yang menegaskan pengaruhnya di luar negeri.

Warisan: Diniyah Puteri tetap menjadi simbol pendidikan perempuan di Sumatera Barat; alumni institusi ini berperan di berbagai bidang — pendidik, aktivis, birokrat, dan pemimpin komunitas.

Nama Rahmah juga selanjutnya menjadi rujukan dalam studi tentang perempuan, pendidikan Islam modern di Indonesia, dan sejarah sosial Minangkabau.

Catatan historiografi dan sumber

Kajian tentang Rahmah El Yunusiyah bersifat plural — data biografisnya tersebar pada arsip lokal, tulisan akademik, literatur pesantren, laman museum dan situs pemerintah daerah.

Karena sumber-sumber lama kadang menampilkan variasi tanggal atau detail kecil, para sejarawan biasanya merujuk pada kumpulan arsip Diniyah Puteri, tulisan contemporer di media Sumatera Barat, serta catatan resmi pemerintah yang mendukung proses verifikasi pahlawan nasional.

Dalam pengumuman penganugerahan tahun 2025, pemerintah menyatakan bahwa nama-nama yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional telah melalui kajian sejarah oleh tim ahli.

Arti Pengakuan untuk Masa Kini

Penetapan Rahmah El Yunusiyah sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar penghormatan retrospektif; ia juga mengirimkan pesan tentang arah ingatan kolektif bangsa—bahwa perjuangan membangun bangs a tidak hanya diukur oleh konflik bersenjata, tetapi juga oleh upaya gigih membentuk manusia lewat pendidikan.

Pengakuan ini diharapkan menyemangati upaya memperkuat akses pendidikan untuk perempuan di seluruh pelosok Indonesia dan menempatkan kisah-kisah perempuan pendobrak sejarah ke ruang publik yang layak.

Sumber utama yang digunakan

Sumber berita dan profil yang mengonfirmasi penganugerahan dan biografi singkat Rahmah El Yunusiyah, antara lain laporan media nasional dan situs arsip daerah serta ringkasan profil sejarah: Detik News, RRI, Antara, KSP, Wikipedia dan sejumlah tulisan sejarah lokal tentang Diniyah Puteri dan Rahmah El Yunusiyah.

Share This Article
Tidak ada komentar