50 Ninik Mamak Ikuti Bimtek Tentang Penguatan Adat dan Budaya Minang Kabau

Helmy
3 Min Read

> Untuk Peningkatan dan Kompetensi

QAYYUMNEWS.ID, Sijunjung – Untuk peningkatan kapasitas dan kompetensi, sebanyak 50 orang ninik-mamak dan bundo kanduang se Kabupaten Sijunjung mengikuti bimbingan teknis tentang penguatan adat dan budaya Minang Kabau di Muaro, Sijunjung, Sumbar, Sabtu (28/10/2023).

Agenda Dinas Kebudayaan yang terselenggara atas dukungan dana Pokir anggota DPRD Sumbar Arkadius Dt Intan Bano itu dibuka Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat dan menghadirkan empat orang pemateri.

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam undang- undang. Kemudian adat dan budaya nagari kita dipayungi Perda nomor 7 tahun 2018 tentang nagari serta aturan dan perundang-undanganlainnya, adat budaya Minangkabau mendapatkan keistimewaan sama halnya adat budaya Aceh dan Bali,” kata Anggota DPRD Sumbar Arkadius Dt Intan Bano saat menyampaikan materinya.

Wakil Ketua Umum LKAAM Sumbar itu juga menjabarkan dengan tuntas dan rinci tentang adat budaya Minangkabau, peran DPRD mendorong kemajuan adat Minang, sejarah, perundang-undangan dan berbagai hal terkait adat dan budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaifullah, sebelumnya juga menyebutkan bahwa bimbingan teknis itu bukan berarti peserta belum memiliki kapasitas, tapi karena sesuai perkembangan teknologi bisa membuat adat budaya tergerus.

“Seperti anak-anak kita, dengan pengaruh handphone android, mereka bisa lebih menyukai budaya korea, lupa budaya Minangkabau. Bagi yang tua ini perlu meyakinkan generasi muda kita. Hari ini tidak ada satu nagari pun di Sumbar yang tidak disentuh Narkoba, kata Pak Kapolda, angka LGBT tinggi, pergaulan bebas, penipuan, perkelahian, dan kriminal lainnya, ini membuat kecemasan,” kata Kadis Syaifullah.

Dijelaskan, pengaruh negatif itu cenderung membuat generasi bangsa pada kekerasan dan pornografi. Generasi muda kita perlu diberikan pencerahan tentang ABS SBK, apa yang dipakai sarak itu yang dipakai adat, ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang Sejarah Adat dan Nilai-Nilai Tradisi Dinas Kebudayaan Sumbar, Fadhli Junaidi mengatakan bahwa peserta terdiri dari tuanku, niniak-mamak, alim ulama, diikuti 50 peserta selama 2 hari. Pemateri disampaikan oleh 4 orang di antaranya Arkadius Dt Intan Bano, Prof Raudha Thaib, Mas’oed Abidin dan Irwan Malin Basa. (fer)

Share This Article
Tidak ada komentar