QAYYUMNEWS.ID, Bukittinggi — Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XLI Tingkat Provinsi Sumatera Barat di Kota Bukittinggi tidak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga berperan sebagai pengungkit ekonomi bagi pelaku usaha lokal dan industri kreatif daerah.
Selama kegiatan yang berlangsung pada 13–18 Desember 2025, kawasan Lapangan Kantin Balai Kota Bukittinggi disulap menjadi pusat keramaian baru. Ribuan pengunjung yang datang untuk menyaksikan rangkaian MTQ turut menghidupkan aktivitas perdagangan, mulai dari kerajinan tradisional hingga kuliner khas daerah.
Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian menyediakan shelter khusus bagi pedagang dan pelaku industri kecil. Beragam produk unggulan Sumatera Barat dipamerkan, seperti tenunan tradisional, kerajinan tangan, pernak-pernik khas Minangkabau, hingga aneka produk olahan UMKM.
Sektor kuliner pun tak kalah semarak. Berbagai pilihan makanan dan minuman tersedia, mulai dari jajanan kaki lima seperti cilok, cireng, dan telur gulung, hingga makanan berat seperti bakso, nasi pecel, dan ayam geprek. Selain itu, camilan kemasan, keripik, kue kering, bumbu instan, serta minuman kekinian turut menarik minat pengunjung.
Salah seorang pelaku usaha kerajinan dari Silungkang, Neta, mengaku kehadiran MTQ memberi dampak positif bagi promosi produknya. Ia menilai event berskala provinsi ini menjadi ruang strategis untuk memperluas pasar.
“MTQ XII ini sangat membantu kami untuk memperkenalkan Songket Silungkang dan tenunan lainnya kepada masyarakat luas. Terima kasih kepada Pemko Bukittinggi dan dinas terkait yang telah memfasilitasi,” ujarnya.
Songket Silungkang sendiri dikenal sebagai salah satu warisan budaya Minangkabau yang bernilai tinggi dan telah menjadi identitas kerajinan Sumatera Barat. Melalui momentum MTQ XLI, produk tradisional tersebut kembali mendapat perhatian, seiring meningkatnya interaksi antara pelaku UMKM dan pengunjung dari berbagai daerah.
Dengan ramainya aktivitas perdagangan selama MTQ, kegiatan ini tidak hanya meninggalkan kesan religius, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perputaran ekonomi masyarakat Bukittinggi dan Sumatera Barat secara umum. (r/harika)

