QAYYUMNEWS.ID PEKANBARU — Selama bertahun-tahun, kesehatan finansial Pemerintah Kota Pekanbaru kerap dibayangi oleh beban hutang tunda bayar dan defisit anggaran yang menghambat pembangunan.
Namun, tepat satu tahun kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar (AMAN), arah angin ekonomi ibu kota Provinsi Riau ini menunjukkan pembalikan tren yang signifikan.
Pekanbaru mencatatkan sejarah baru dengan raihan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi sepanjang berdirinya kota ini.
Hingga tutup buku tahun anggaran 2025, realisasi PAD Kota Pekanbaru menembus angka di atas Rp950 miliar.
Pencapaian ini menjadi rekor tertinggi, melampaui capaian tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata tertahan di angka Rp700 miliar hingga Rp800 miliar.
Lonjakan ini menjadi modal krusial bagi duet AMAN yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 lalu untuk menjalankan berbagai program kerakyatan.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menjelaskan bahwa keberhasilan ini bukan hasil dari kenaikan tarif pajak yang membebani rakyat, melainkan buah dari efisiensi dan digitalisasi sistem pemungutan.
“Kami melakukan optimalisasi pada sektor-sektor yang selama ini mengalami kebocoran, terutama melalui digitalisasi pajak daerah dan penataan ulang tata kelola parkir serta pajak reklame,” ujarnya.
Memulihkan Kepercayaan Investor
Seiring dengan membaiknya kondisi fiskal internal, daya tarik investasi Pekanbaru turut terdongkrak.
Realisasi investasi di tahun 2025 tercatat mencapai Rp8,6 triliun, melonjak tajam dari target awal sebesar Rp5,1 triliun.
Sektor jasa, perdagangan, dan industri pengolahan menjadi motor utama yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal.
”Kepercayaan investor tumbuh karena melihat adanya kepastian hukum dan perbaikan infrastruktur jalan yang masif dilakukan dalam setahun terakhir. Dompet daerah yang sehat memungkinkan kami memberikan stimulus dan kemudahan perizinan yang lebih baik,” tambah Agung Nugroho.
Dampak dari sehatnya “dompet” daerah ini mulai dirasakan oleh aparatur sipil negara (ASN) dan pihak ketiga.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Pemko Pekanbaru mampu melunasi sebagian besar beban hutang tunda bayar yang diwariskan periode sebelumnya.
Pembayaran gaji ke-13 dan ke-14 serta tunjangan tambahan penghasilan (TPP) pegawai kini berjalan tepat waktu tanpa drama penundaan.
Perspektif Ekonomi
Keberhasilan memecahkan rekor PAD merupakan indikator kuat adanya transparansi tata kelola keuangan.
Angka Rp950 miliar lebih itu menunjukkan bahwa mesin birokrasi Pekanbaru mulai bekerja efektif.
Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana retensi PAD ini tetap stabil di tahun kedua dan ketiga.
Kemandirian fiskal adalah kunci bagi kota besar seperti Pekanbaru agar tidak melulu bergantung pada Dana Alokasi Umum (DAU) dari pusat.
Jika tren ini terjaga, Pekanbaru memiliki fleksibilitas untuk membiayai proyek infrastruktur besar secara mandiri, seperti penanganan banjir permanen yang membutuhkan biaya tinggi.
Keseimbangan Sosial
Meski fokus pada angka-angka ekonomi, duet AMAN tetap menjaga keseimbangan sosial.
Kelebihan pendapatan daerah dialokasikan kembali ke masyarakat melalui program bantuan sosial dan pendidikan.
Salah satunya adalah kucuran beasiswa sebesar Rp15 miliar yang menyasar mahasiswa berprestasi dan kurang mampu, dari jenjang sarjana hingga doktoral.
Menutup setahun pertama, “dompet” Pekanbaru yang mulai sehat menjadi pondasi bagi ambisi Agung-Markarius mewujudkan visi Pekanbaru Bertuah.
Di tengah optimisme ini, publik tetap menanti bagaimana efektivitas belanja daerah tersebut benar-benar mampu menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan di sudut-sudut kota yang belum tersentuh pembangunan. (*)

